Perasaan-perasaan dalam Dunia Kecilku
Selamat malam, saya Ananda! Semoga anda sehat selalu. ^^
Ehem ehem, karena saya adalah orang yang tidak enakan kalau harus curhat masalah pribadi kepada orang lain, lebih baik saya menulis blog tentang apa yang saya rasakan saja!
"Lho, kan sama saja. Nanti bisa dilihat banyak orang."
Bukan..bukan itu! Blog ini sejak beberapa bulan lalu saya lebarkan fungsinya menjadi penampung curhatan, seiring dengan menurunnya minat saya menulis tentang kosmetik seperti waktu SMP. Saya sudah akan kuliah kurang dari dua bulan lagi, rasanya saya akan lebih banyak menghabiskan uang saya untuk membeli keperluan perkuliahan seni yang mahalnya bikin saya mengelus dada sambil istighfar tiga kali.
Tenang, alat seni itu (biasanya) semakin mahal semakin worth it, IMHO, sih. Karena, sejak kecil saya suka menggambar dan melukis, makanya tahu. Menurut teman-teman, sayangkah membelikan anak-anak seusia SD krayon untuk lomba melukis seharga sejutaan? Mungkin iya, tetapi bagi yang bergelut di bidangnya, itu akan sangat pantas dan menunjang karena kualitasnya yang amat baik.
Sudah, sudah, saya belum mau membahas masalah perkuliahan karena memang belum mulai kuliah. Kalau saya sempat, inyaAllah saya akan menulis tentang OSKM dan kegiatan kampus lainnya nanti.
Saya ini sebenarnya habis stalking di google mengenai seseorang yang pernah saya bahas pada bulan Januari. Aaaah, payah. Membiarkan diri sendiri kurang kerjaan di waktu liburan memang sama tidak sehatnya dengan makan tahu bulat satu kresek dengan micin yang seabreg-abreg. Saya bukannya tergila-gila ya, saya itu cuma tidak pernah kehabisan stok rasa penasaran.
Coba follow instagramnya? Udah pernah, tapi sepertinya saya belum diizinkan untuk follow, padahal akunnya di private. Sigh. Semakin hari rasanya semakin penasaran!! What can I do? Only hope! LOL!
Cara untuk melupakan rasa penasaran itu adalah dengan menyibukkan diri. Hampir setiap hari saya menggambar atau melukis, tidak banyak menulis. Saya tidak mau mengetik snapgram panjang-panjang, meskipun dulu saya sering melakukannya. Memilih blog sebagai jalan terakhir untuk menyalurkan ke-bawel-an saya terasa cukup bijak, mengingat hanya anda yang beruntung (atau mungkin sama kurang kerjaannya dengan saya) yang bisa menemukan segala rupa tulisan asal saya di blog terasing ini.
Ibaratnya apa ya... Saya tuh kagum sama orang itu seperti mencari jarum dalam tumpukan satu ton jerami bercampur lima kuintal dedak yang sedang diperebutkan oleh hewan-hewan ternak satu kecamatan. Atau ketika Violet kehilangan bros emeraldnya di medan perang, meskipun pada akhirnya ketemu juga, sih. Tapi kalau saya, belum tentu. Kelihatannya perupamaan yang pertama lebih cocok, karena tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi.
Mari saya paparkan kenapa saya hampir tidak mungkin mendapatkan orang itu!! (Saya ya, kalau Allah berkehendak, segalnya akan terjadi, Wallahu a'lam)
1. Saya tahu beliau tapi beliau tak pernah tahu siapa saya. Saya, sebagai remaja tanggung yang baru lulus SMA, sebelumnya melihat beliau di sebuah seminar. Peran yang saya jalankan pada saat itu adalah sebagai 'audiens budiman'. Beliau pembicara, saya audiens. Apakah wajib bagi seorang pemateri mengetahui identitas setiap orang yang menghadiri seminarnya? Tentu saja tidak, saudara-saudara!
2. Beliau 'seseorang' dan saya bukan siapa-siapa. Di usia yang baru 30 an, beliau sudah mendapatkan jabatan yang bagus di perusahaannya. Beliau juga sangat berprestasi ketika SMA karena teleh berhasil menyabet medali di ajang OSN bidang kimia. Setelah lulus dari ITB, beliau menempuh studi lanjutan di Korea Selatan melalu jalur beasiswa.
Nah, saya siapa? Coba tanya di komplek saya, apakah semua orang kenal saya? Atau adik-adik kelas saya semasa SMA, siapa saya? Juara KSM Nasional? Juara OSK? Juara cerdas cermat sejaran tingkat kota dan provinsi? Juara kelas? Duta perpus? Siswi MA terbaik?
Saya menyebutkannya satu per satu untuk menghindarkan diri saya sendiri dari kejatuhan mental karena seringkali merasa menjadi manusia terburuk. Semata-mata untuk bersyukur, karena saya yang seperti ini, sedikitnya bisa membanggakan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik saya. :)
Intinya, saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau.
3. Beliau terlihat serius dan fokus dalam menggapai tujuannya, sementara saya seringkali over-distracted dan emosian. Eh, dari mana saya tahu? Yah, intinya begitu. Sejauh yang saya uraikan dalam pikiran.
Saya tahu setiap orang punya 'PR Kehidupan' masing-masing yang belum terselesaikan. Beliau juga, meskipun saya merasakan bahwa saya jauh lebih bobrok dan punya tumpukan PR.
4. Usia. Begini, inilah pertama kalinya dalam hidup saya tertarik pada orang yang jauh lebih tua. 14 tahun perbedaan usia, bukankah jauh sekali? Aneh kan. Beliau sudah melanglang buana dalam hidupnya, saya masih sebatas calon mahasiswayang polos dan imut sekali. Beliau sudah kerja bertahun-tahun, sementara saya masih mengurus daftar ulang kedua dan adminidtrasi di kampus. Beliau ke Singapura saya ke siDAPURa.
Ngusir kecoa di kamar mandi aja belum becus, bisa-bisanya ada perasaan suka pada orang yang sudah banyak pencapaian dalam hidupnya.
5. Diri yang belum baik. Ini sebenarnya ada di urutan pertama, tetapi saya sengaja menaruh di akhir. Apa sih yang tidak bisa Allah lakukan? Apa sih yang tidak mungkin bagi-Nya? Allah mampu mempertemukan insan dari pautan jarak ribuan kilometer, bahkan di belahan bumi lain yang terjauh sekalipun. Masalahnya adalah, Allah menciptakan seseorang untuk kita atau bukan.
Di situ kita harus bisa menerima. Bila orang yang kita sukai kelak menikah dengan orang selain kita, berpikirlah yang baik. Siapa tahu Allah memang ciptakan mereka untuk satu sama lain, Allah jadikan keduanya pantas-memantaskan, hingga dipertemukan. Lagipula, tidak bersama dalam ikatan dengan orang yang selama ini kita sukai sebenarnya bukanlah masalah, karena siapa tahu dari jalan yang menyakitkan itu pula Allah mempertemukan dengan yang terbaik untuk kita!
Aduh, chat sama laki-laki saja malu dan masih harus banyak memeperbaiki diri saja sok-sokan ngomong begini. Ya, memang. Saya sengaja kok mengutarakan pandangan yang saya anut mengenai 'jodoh dan tidak jodoh' ini. -"- Saya selalu percaya Allah tahu yang terbaik.
Oke, semoga beberapa tahun lagi saya tidak menertawakan diri saya sendiri karena ketahuan. Tidak, InsyaAllah, saya yakin tulisan saya ini tidak akan ketahuan! Karena hanya orang yang sedang kurang kerjaan yang menemukannya! PEACE ><! Dan semoga tidak ada yang sadar siapa yang saya bicarakan di sini!
Ananda, the freak girl with million dreams to reach. Do my best in this short-term life. :v
Ehem ehem, karena saya adalah orang yang tidak enakan kalau harus curhat masalah pribadi kepada orang lain, lebih baik saya menulis blog tentang apa yang saya rasakan saja!
"Lho, kan sama saja. Nanti bisa dilihat banyak orang."
Bukan..bukan itu! Blog ini sejak beberapa bulan lalu saya lebarkan fungsinya menjadi penampung curhatan, seiring dengan menurunnya minat saya menulis tentang kosmetik seperti waktu SMP. Saya sudah akan kuliah kurang dari dua bulan lagi, rasanya saya akan lebih banyak menghabiskan uang saya untuk membeli keperluan perkuliahan seni yang mahalnya bikin saya mengelus dada sambil istighfar tiga kali.
Tenang, alat seni itu (biasanya) semakin mahal semakin worth it, IMHO, sih. Karena, sejak kecil saya suka menggambar dan melukis, makanya tahu. Menurut teman-teman, sayangkah membelikan anak-anak seusia SD krayon untuk lomba melukis seharga sejutaan? Mungkin iya, tetapi bagi yang bergelut di bidangnya, itu akan sangat pantas dan menunjang karena kualitasnya yang amat baik.
Sudah, sudah, saya belum mau membahas masalah perkuliahan karena memang belum mulai kuliah. Kalau saya sempat, inyaAllah saya akan menulis tentang OSKM dan kegiatan kampus lainnya nanti.
Saya ini sebenarnya habis stalking di google mengenai seseorang yang pernah saya bahas pada bulan Januari. Aaaah, payah. Membiarkan diri sendiri kurang kerjaan di waktu liburan memang sama tidak sehatnya dengan makan tahu bulat satu kresek dengan micin yang seabreg-abreg. Saya bukannya tergila-gila ya, saya itu cuma tidak pernah kehabisan stok rasa penasaran.
Coba follow instagramnya? Udah pernah, tapi sepertinya saya belum diizinkan untuk follow, padahal akunnya di private. Sigh. Semakin hari rasanya semakin penasaran!! What can I do? Only hope! LOL!
Cara untuk melupakan rasa penasaran itu adalah dengan menyibukkan diri. Hampir setiap hari saya menggambar atau melukis, tidak banyak menulis. Saya tidak mau mengetik snapgram panjang-panjang, meskipun dulu saya sering melakukannya. Memilih blog sebagai jalan terakhir untuk menyalurkan ke-bawel-an saya terasa cukup bijak, mengingat hanya anda yang beruntung (atau mungkin sama kurang kerjaannya dengan saya) yang bisa menemukan segala rupa tulisan asal saya di blog terasing ini.
Ibaratnya apa ya... Saya tuh kagum sama orang itu seperti mencari jarum dalam tumpukan satu ton jerami bercampur lima kuintal dedak yang sedang diperebutkan oleh hewan-hewan ternak satu kecamatan. Atau ketika Violet kehilangan bros emeraldnya di medan perang, meskipun pada akhirnya ketemu juga, sih. Tapi kalau saya, belum tentu. Kelihatannya perupamaan yang pertama lebih cocok, karena tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi.
Mari saya paparkan kenapa saya hampir tidak mungkin mendapatkan orang itu!! (Saya ya, kalau Allah berkehendak, segalnya akan terjadi, Wallahu a'lam)
1. Saya tahu beliau tapi beliau tak pernah tahu siapa saya. Saya, sebagai remaja tanggung yang baru lulus SMA, sebelumnya melihat beliau di sebuah seminar. Peran yang saya jalankan pada saat itu adalah sebagai 'audiens budiman'. Beliau pembicara, saya audiens. Apakah wajib bagi seorang pemateri mengetahui identitas setiap orang yang menghadiri seminarnya? Tentu saja tidak, saudara-saudara!
2. Beliau 'seseorang' dan saya bukan siapa-siapa. Di usia yang baru 30 an, beliau sudah mendapatkan jabatan yang bagus di perusahaannya. Beliau juga sangat berprestasi ketika SMA karena teleh berhasil menyabet medali di ajang OSN bidang kimia. Setelah lulus dari ITB, beliau menempuh studi lanjutan di Korea Selatan melalu jalur beasiswa.
Nah, saya siapa? Coba tanya di komplek saya, apakah semua orang kenal saya? Atau adik-adik kelas saya semasa SMA, siapa saya? Juara KSM Nasional? Juara OSK? Juara cerdas cermat sejaran tingkat kota dan provinsi? Juara kelas? Duta perpus? Siswi MA terbaik?
Saya menyebutkannya satu per satu untuk menghindarkan diri saya sendiri dari kejatuhan mental karena seringkali merasa menjadi manusia terburuk. Semata-mata untuk bersyukur, karena saya yang seperti ini, sedikitnya bisa membanggakan orang tua yang telah melahirkan dan mendidik saya. :)
Intinya, saya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan beliau.
3. Beliau terlihat serius dan fokus dalam menggapai tujuannya, sementara saya seringkali over-distracted dan emosian. Eh, dari mana saya tahu? Yah, intinya begitu. Sejauh yang saya uraikan dalam pikiran.
Saya tahu setiap orang punya 'PR Kehidupan' masing-masing yang belum terselesaikan. Beliau juga, meskipun saya merasakan bahwa saya jauh lebih bobrok dan punya tumpukan PR.
4. Usia. Begini, inilah pertama kalinya dalam hidup saya tertarik pada orang yang jauh lebih tua. 14 tahun perbedaan usia, bukankah jauh sekali? Aneh kan. Beliau sudah melanglang buana dalam hidupnya, saya masih sebatas calon mahasiswa
Ngusir kecoa di kamar mandi aja belum becus, bisa-bisanya ada perasaan suka pada orang yang sudah banyak pencapaian dalam hidupnya.
5. Diri yang belum baik. Ini sebenarnya ada di urutan pertama, tetapi saya sengaja menaruh di akhir. Apa sih yang tidak bisa Allah lakukan? Apa sih yang tidak mungkin bagi-Nya? Allah mampu mempertemukan insan dari pautan jarak ribuan kilometer, bahkan di belahan bumi lain yang terjauh sekalipun. Masalahnya adalah, Allah menciptakan seseorang untuk kita atau bukan.
Di situ kita harus bisa menerima. Bila orang yang kita sukai kelak menikah dengan orang selain kita, berpikirlah yang baik. Siapa tahu Allah memang ciptakan mereka untuk satu sama lain, Allah jadikan keduanya pantas-memantaskan, hingga dipertemukan. Lagipula, tidak bersama dalam ikatan dengan orang yang selama ini kita sukai sebenarnya bukanlah masalah, karena siapa tahu dari jalan yang menyakitkan itu pula Allah mempertemukan dengan yang terbaik untuk kita!
Aduh, chat sama laki-laki saja malu dan masih harus banyak memeperbaiki diri saja sok-sokan ngomong begini. Ya, memang. Saya sengaja kok mengutarakan pandangan yang saya anut mengenai 'jodoh dan tidak jodoh' ini. -"- Saya selalu percaya Allah tahu yang terbaik.
Oke, semoga beberapa tahun lagi saya tidak menertawakan diri saya sendiri karena ketahuan. Tidak, InsyaAllah, saya yakin tulisan saya ini tidak akan ketahuan! Karena hanya orang yang sedang kurang kerjaan yang menemukannya! PEACE ><! Dan semoga tidak ada yang sadar siapa yang saya bicarakan di sini!
Ananda, the freak girl with million dreams to reach. Do my best in this short-term life. :v
Komentar
Posting Komentar