Pengalamanku di Kompetisi Sains Madrasah (Kota-Nasional)
Assalamu'alaikum teman-teman. Di pagi hari yang cerah ini, saya ingin membagikan pengalaman saya dua tahun lalu, yaitu mengikuti Kompetisi Sains Madrasah Nasional Jogja 2017. :3 *drum roll*
Bagi kalian yang belum tahu apa itu KSM, KSM merupakan kompetisi yang sejenis dengan OSN. Hanya saja, pesertanya terbatas di kalangan madrasah dan MAN IC.
Sebelumnya, saya mengikuti selama dua tahun, yakni tahun 2017 dan 2018. Sistemnya pun berbeda. Pada tahun 2017, KSM masih memisahkan antara MAN dan MAN IC, serta pengerjaannya manual. Sementara itu di tahun berikutnya, kedua jenis (aduh, jenis!) madrasah tersebut disatukan, berimbas pada penambahan kapasitas peserta yang ikut dan pengerjaan soal berbasis komputer. Dan untuk soal, KSM 2017 memisahkan antara PAI dan mata lomba, sementara tahun 2018 diintegrasikan :3.
Nah, berhubung saya lolos ke tingkat nasional hanya pada tahun 2017, saya akan memfokuskan tulisan ini untuk membahas hal tersebut. Check this out!
Saat itu, saya masih kelas X semester 2. Saya tahu kok, kalau saya anak baru. Saya juga tidak ingin merasa paling baik sekalipun nilai seleksi saya memang, yah, bagaimana ya... Tertinggi. Saya menaruh hormat pada senior saya tanpa mengesampingkan belajar lebih. Dalam menuntut ilmu dan ibadah, kita boleh merasa iri pada orang yang lebih pandai kan? Nah, saya menanamkan hal tersebut dalam diri saya, bahwa di luar sana banyaaak sekali yang jauh lebih cerdas daripada saya. Makanya, saya bisa terpacu untuk terus belajar.
Ketika saya mendapatkan peringkat pertama di tingkat kota, secara otomatis saya lolos ke tingkat provinsi. Di situ saya mendapatkan sedikit rasa percaya diri bahwa saya mampu, InsyaAllah, mencapai tahap yang lebih tinggi. Saya sangat berterimakasih atas peran orang-orang yang telah mendukung saya, karenanya saya bertekad untuk tidak terlena dan terus maju.
Saya pernah mendapatkan pelatihan sekali ketika akan OSK. Saya tidak menyia - nyiakannya, saya meminta banyak materi untuk dipelajari. Dan materi-materi tersebut cukup menunjang saya yang seorang self-learner. Kenapa? Guru geografi saya hanya ada satu orang untuk tiga angkatan. Beliau tidak sempat mengajari saya meskipun beliau memberikan soal-soal dari tahun sebelumnya.
Saya tidak keberatan soal itu. Sekalipun harus berusaha ekstra, saya lakoni. Mampir ke perpustakaan setiap hari, kalau sudah tutup saya membaca buku sampai jam lima sore di kelas, searching materi berbahasa Inggris, terbangun sebelum subuh dan belajar, mengerjakan soal-soal, mengulangi materi-materi penting, memperbanyak doa... Saya jalani sepenuh hati. Saya menikmati kehidupan semacam itu. Rasanya dinamis. 🙂
Bagaimana dengan pelajaran saya yang lain? Saya tidak mengabaikannya. Kalau ada jam kosong, saya mempelajari yang lain, dan alhamdulillah nilai saya tidak ada yang jatuh. 😁
Singkat cerita, tibalah kompetisi tingkat provinsi di Pandeglang. Duh, Ya Allah, bisa - bisanya saya tidak tidur nyenyak dan terbangun lagi untuk belajar dari jam satu hingga jam tiga pagi! Padahal pukul enam saya harus berangkat... Huaaaa! Saya belum sempat sarapan, untungnya sedikit santai. Ketika itu, kantuknya belum begitu terasa.
Hingga tibalah kami bersembilan di Pandeglang. Di tengah perjalanan menuju ke MAN 1 tempat kami berlomba, saya berkata sejujurnya pada senior saya :
"Kak, saya masih kelas sepuluh. Saya tahu kalau masih ada kesempatan, tapi saya merasa kalau sekaranglah saatnya kalau ingin menang. Kak saya takut.. "
Ia menjawab dengan santai, "tahun lalu juga saya sama sepertimu. Santailah!"
Kata-katanya sedikit melegakan hati. ☺
Pengerjaan soal dimulai pada pukul 08.30. Sejauh itu, alhamdulillah saya tidak merasakan kesulitan yang fatal. Saya punya kebiasaan mencoret-coret soal untuk membandingkan antara pilihan jawaban yang pernyataannya mirip. Juga mengotret.
Kalau teman-teman bertanya lebih susah mana antara KSM dan OSN, tanpa bermaksud merendahkan, saya merasa bahwa soal KSM lebih mudah dipahami. Begitu sih...
Teeeng! Bel tanda habisnya waktu pengerjaan soal berbunyi setelah adzan dzuhur. Kami semua keluar untuk ISHOMA dan sedikit membahas untuk PAI.
Masuk lagi. Dan di sinilah hal yang tidak diharapkan terjadi. Setelah dua kali memeriksa soal yang saya kerjakan, SAYA TIDUR! OMG!
Benar-benar tidur, kepala saya miringkan dan bersandar pada tangan kanan saya sebagai bantal. Sampai ibu pengawas bertanya, "memang sebegitu susah soalnya ya?" Saya pun terkekeh dan menggeleng, lalu pamit untuk mencuci muka sambil menahan malu.
Pengumuman pemenang diadakan setelah magrib. Duh, itu sih rasanya dada saya mau meledak. Geografi diumumkan terakhir, dua orang kakak kelas saya sudah maju untuk menerima medali. Saya memilih tidur saja. Tapi...
Heh, nama saya disebut lho. Yang pertama.
Semua heboh. Saya tidak percaya!! Naik ke atas panggung dipenuhi perasaan semacam itu ternyata cukup menyenangkan. Alhamdulilah. Saya lolos untuk tahap nasional. 😿
Selama liburan kenaikan kelas saya tidak pernah absen membaca buku geografi setiap hari. Sudah kayak makan, malah lebih sering daripada makan. Semangat terasa berapi-api, hehehe.
Seminggu sebelum keberangkatan kami ke Jogja pada tanggal 5 Agustus, kami berkumpul di kantor kemenag Provinsi Banten. Diberi berbagai macam akomodasi dan uang saku... Ya Allah, saya merasa bersyukur sekali, dan pastinya tambah semangat dong! ☺
Kami berangkat juga dan sampai di Jogja pada tanggal 6 Agustus 2017. Karena lelah perjalanan panjang menggunakan bus, saya dan kak lula tertidur pulas selama siang hari. Barulah setelah ashar kami belajar lagi di halaman belakang hotel.
Ada yang menyenangkan, sehabis magrib kak Aida, alumni yang pernah memenangkan KSM nasional dan sedang melanjutkan pendidikan di UGM jurusan Geografi, datang dan mengajariku! Waaah kurang bahagia apa coba saya. Bahkan sampai esoknya pun Kak Aida tetap datang dan meminjamkan saya pensil warna, hihihi.
Pembukaan KSM dan Aksioma 2017 diadakan di stadion yang saya lupa namanya. Yang jelas di Yogyakarta, wkwk.
Akhirnyaaa! Tibalah tanggal 8, pertempuran jilid 1 akan dimulai! Saya nervous, sampai-sampai gemetaran. Untung ada Jihan, teman yang setahun lebih tua, dari Sulawesi. Saya jadi tidak terlalu gugup.
Semua soal geografinya esai. Buat diagram dan hitung-hitungan sudah pasti. Kelihatan biasa saja, tapi tidak semudah itu, Ferguso. Tidak ada pilihan selain fokus meskipun sulit, karena tekanan dalam ruangan itu luar biasa. Alhamdulillah terjawab juga semuanya.
Besoknya saya sedikit santai. Praktikumnya adalah menggambar peta!! Kami harus berkeliling UIN Sunan Gunung Jati dan mencari nama tempat di peta untuk dijadikan legenda. Kami tidak diperbolehkan bertanya pada siapapun kecuali orang luar kampus. Seru banget tau!
Saya suka menggambar. Saya pastikan posisi, komponen, serta arsirannya baik. Saya cukup pede, InsyaAllah. Saya lega seraya mengucapkan doa dalam hati. Saya juga dapat pelajaran sangat berharga untuk selalu merendah dalam keilmuan, karena selalu ada yang lebih baik pengetahuannya dari kita, bahkan dalam satu ruangan itu. :"
Hari jumat adalah hari pengumuman. Dari pagi sampai sore kami berjalan - jalan ke Prambanan, Alun-alun Kota Yogyakarta, Malioboro, dan berpencar ke UGM. Saya, Kak Lula, dan Kak Dawam datang ke sana naik GO-CAR, untung supirnya baik dan mau mengantarkan kami bolak-balik. Di UGM, saya berdoa dalam hati agar suatu saat dapat diterima.
Saat kembali ke hotel, kami tepar. Baru terbangun sesaat sebelum berangkatnya bus ke stadion tempat pengumuman. Allahuakbar!! Secepat kilat kami bersiap - siap dan naik ke bus dengan mata yang masih beler.
Selama perjalanan saya berdoa, minta diberikan yang terbaik.
Sampai juga. Huaaah, saya tidak bisa konsentrasi terhadap performance. Saya hanya menunggu pengumuman.
Tibalah saat yang dinanti. Layar akan menampilkan nama pemenangnya. Kak Lula menangis karena namanya tak ada... Kami semua turut bersedih, tetapi kami juga tak bisa membuang harapan dan doa kami.
Jumlah pemenangnya 6 orang. Saya ada di peringkat kelima.
Haaaa!! Kami langsung heboh. Setelah pengumuman selesai semua pemenang diminta naik ke atas panggung. Salah satu saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup saya, menerima medali dan hadiah.
Dari sekolah kami, bidang KTI yang diikuti oleh Esa, Fajar, kak Sarah, dan Kak Dawam juga memenangkan peringkat pertama dan ketiga. Omedetou!!
Nah, temanku Aziz memenangkan juara pertama pidato bahasa Inggris. Congrats, bro!!
Nah, itu tadi pengalaman KSM saya yang singkat. Atau mungkin panjang, terserah. Alhamdulilah, kompetisi tersebut merupakan kenangan yang sangat indah dan berdampak besar pada semangat saya dalam belajar.
Saya yang awalnya ingin kuliah di bidang geografi yang saya dalami selama lomba, ternyata diterima di FSRD. Saya yang awalnya punya pilihan soshum ke UGM, malah mendapatkan ITB yang awalnya saya tidak suka. Saya yang berniat untuk menang lagi di tahun berikutnya ternyata harus gugur di tingkat provinsi.
Anda paham? Segala sesuatu bisa jadi berlawanan, tapi itulah yang terbaik untuk kita. 🙂 semoga cerita saya dapat menginspirasi adik-adik semua. Semangat, jangan lupa berdoa ya!!
*Saya sama sekali tidak berniat untuk pamer, foto hanyalah penunjang. :"v Jangan bully ya!*
Bagi kalian yang belum tahu apa itu KSM, KSM merupakan kompetisi yang sejenis dengan OSN. Hanya saja, pesertanya terbatas di kalangan madrasah dan MAN IC.
Sebelumnya, saya mengikuti selama dua tahun, yakni tahun 2017 dan 2018. Sistemnya pun berbeda. Pada tahun 2017, KSM masih memisahkan antara MAN dan MAN IC, serta pengerjaannya manual. Sementara itu di tahun berikutnya, kedua jenis (aduh, jenis!) madrasah tersebut disatukan, berimbas pada penambahan kapasitas peserta yang ikut dan pengerjaan soal berbasis komputer. Dan untuk soal, KSM 2017 memisahkan antara PAI dan mata lomba, sementara tahun 2018 diintegrasikan :3.
Nah, berhubung saya lolos ke tingkat nasional hanya pada tahun 2017, saya akan memfokuskan tulisan ini untuk membahas hal tersebut. Check this out!
Saat itu, saya masih kelas X semester 2. Saya tahu kok, kalau saya anak baru. Saya juga tidak ingin merasa paling baik sekalipun nilai seleksi saya memang, yah, bagaimana ya... Tertinggi. Saya menaruh hormat pada senior saya tanpa mengesampingkan belajar lebih. Dalam menuntut ilmu dan ibadah, kita boleh merasa iri pada orang yang lebih pandai kan? Nah, saya menanamkan hal tersebut dalam diri saya, bahwa di luar sana banyaaak sekali yang jauh lebih cerdas daripada saya. Makanya, saya bisa terpacu untuk terus belajar.
Ketika saya mendapatkan peringkat pertama di tingkat kota, secara otomatis saya lolos ke tingkat provinsi. Di situ saya mendapatkan sedikit rasa percaya diri bahwa saya mampu, InsyaAllah, mencapai tahap yang lebih tinggi. Saya sangat berterimakasih atas peran orang-orang yang telah mendukung saya, karenanya saya bertekad untuk tidak terlena dan terus maju.
Saya pernah mendapatkan pelatihan sekali ketika akan OSK. Saya tidak menyia - nyiakannya, saya meminta banyak materi untuk dipelajari. Dan materi-materi tersebut cukup menunjang saya yang seorang self-learner. Kenapa? Guru geografi saya hanya ada satu orang untuk tiga angkatan. Beliau tidak sempat mengajari saya meskipun beliau memberikan soal-soal dari tahun sebelumnya.
Sedikit contoh file materi dari tentor
Saya tidak keberatan soal itu. Sekalipun harus berusaha ekstra, saya lakoni. Mampir ke perpustakaan setiap hari, kalau sudah tutup saya membaca buku sampai jam lima sore di kelas, searching materi berbahasa Inggris, terbangun sebelum subuh dan belajar, mengerjakan soal-soal, mengulangi materi-materi penting, memperbanyak doa... Saya jalani sepenuh hati. Saya menikmati kehidupan semacam itu. Rasanya dinamis. 🙂
Bagaimana dengan pelajaran saya yang lain? Saya tidak mengabaikannya. Kalau ada jam kosong, saya mempelajari yang lain, dan alhamdulillah nilai saya tidak ada yang jatuh. 😁
Singkat cerita, tibalah kompetisi tingkat provinsi di Pandeglang. Duh, Ya Allah, bisa - bisanya saya tidak tidur nyenyak dan terbangun lagi untuk belajar dari jam satu hingga jam tiga pagi! Padahal pukul enam saya harus berangkat... Huaaaa! Saya belum sempat sarapan, untungnya sedikit santai. Ketika itu, kantuknya belum begitu terasa.
Hingga tibalah kami bersembilan di Pandeglang. Di tengah perjalanan menuju ke MAN 1 tempat kami berlomba, saya berkata sejujurnya pada senior saya :
"Kak, saya masih kelas sepuluh. Saya tahu kalau masih ada kesempatan, tapi saya merasa kalau sekaranglah saatnya kalau ingin menang. Kak saya takut.. "
Ia menjawab dengan santai, "tahun lalu juga saya sama sepertimu. Santailah!"
Kata-katanya sedikit melegakan hati. ☺
Pengerjaan soal dimulai pada pukul 08.30. Sejauh itu, alhamdulillah saya tidak merasakan kesulitan yang fatal. Saya punya kebiasaan mencoret-coret soal untuk membandingkan antara pilihan jawaban yang pernyataannya mirip. Juga mengotret.
Kalau teman-teman bertanya lebih susah mana antara KSM dan OSN, tanpa bermaksud merendahkan, saya merasa bahwa soal KSM lebih mudah dipahami. Begitu sih...
Teeeng! Bel tanda habisnya waktu pengerjaan soal berbunyi setelah adzan dzuhur. Kami semua keluar untuk ISHOMA dan sedikit membahas untuk PAI.
Masuk lagi. Dan di sinilah hal yang tidak diharapkan terjadi. Setelah dua kali memeriksa soal yang saya kerjakan, SAYA TIDUR! OMG!
Benar-benar tidur, kepala saya miringkan dan bersandar pada tangan kanan saya sebagai bantal. Sampai ibu pengawas bertanya, "memang sebegitu susah soalnya ya?" Saya pun terkekeh dan menggeleng, lalu pamit untuk mencuci muka sambil menahan malu.
Pengumuman pemenang diadakan setelah magrib. Duh, itu sih rasanya dada saya mau meledak. Geografi diumumkan terakhir, dua orang kakak kelas saya sudah maju untuk menerima medali. Saya memilih tidur saja. Tapi...
Heh, nama saya disebut lho. Yang pertama.
Semua heboh. Saya tidak percaya!! Naik ke atas panggung dipenuhi perasaan semacam itu ternyata cukup menyenangkan. Alhamdulilah. Saya lolos untuk tahap nasional. 😿
Selama liburan kenaikan kelas saya tidak pernah absen membaca buku geografi setiap hari. Sudah kayak makan, malah lebih sering daripada makan. Semangat terasa berapi-api, hehehe.
Seminggu sebelum keberangkatan kami ke Jogja pada tanggal 5 Agustus, kami berkumpul di kantor kemenag Provinsi Banten. Diberi berbagai macam akomodasi dan uang saku... Ya Allah, saya merasa bersyukur sekali, dan pastinya tambah semangat dong! ☺
Kami berangkat juga dan sampai di Jogja pada tanggal 6 Agustus 2017. Karena lelah perjalanan panjang menggunakan bus, saya dan kak lula tertidur pulas selama siang hari. Barulah setelah ashar kami belajar lagi di halaman belakang hotel.
Ada yang menyenangkan, sehabis magrib kak Aida, alumni yang pernah memenangkan KSM nasional dan sedang melanjutkan pendidikan di UGM jurusan Geografi, datang dan mengajariku! Waaah kurang bahagia apa coba saya. Bahkan sampai esoknya pun Kak Aida tetap datang dan meminjamkan saya pensil warna, hihihi.
Pembukaan KSM dan Aksioma 2017 diadakan di stadion yang saya lupa namanya. Yang jelas di Yogyakarta, wkwk.
Maafkan aku yang berisik dan alay ini...
Akhirnyaaa! Tibalah tanggal 8, pertempuran jilid 1 akan dimulai! Saya nervous, sampai-sampai gemetaran. Untung ada Jihan, teman yang setahun lebih tua, dari Sulawesi. Saya jadi tidak terlalu gugup.
Semua soal geografinya esai. Buat diagram dan hitung-hitungan sudah pasti. Kelihatan biasa saja, tapi tidak semudah itu, Ferguso. Tidak ada pilihan selain fokus meskipun sulit, karena tekanan dalam ruangan itu luar biasa. Alhamdulillah terjawab juga semuanya.
Besoknya saya sedikit santai. Praktikumnya adalah menggambar peta!! Kami harus berkeliling UIN Sunan Gunung Jati dan mencari nama tempat di peta untuk dijadikan legenda. Kami tidak diperbolehkan bertanya pada siapapun kecuali orang luar kampus. Seru banget tau!
Saya suka menggambar. Saya pastikan posisi, komponen, serta arsirannya baik. Saya cukup pede, InsyaAllah. Saya lega seraya mengucapkan doa dalam hati. Saya juga dapat pelajaran sangat berharga untuk selalu merendah dalam keilmuan, karena selalu ada yang lebih baik pengetahuannya dari kita, bahkan dalam satu ruangan itu. :"
Hari jumat adalah hari pengumuman. Dari pagi sampai sore kami berjalan - jalan ke Prambanan, Alun-alun Kota Yogyakarta, Malioboro, dan berpencar ke UGM. Saya, Kak Lula, dan Kak Dawam datang ke sana naik GO-CAR, untung supirnya baik dan mau mengantarkan kami bolak-balik. Di UGM, saya berdoa dalam hati agar suatu saat dapat diterima.
Di Prambanan ^^
Saat kembali ke hotel, kami tepar. Baru terbangun sesaat sebelum berangkatnya bus ke stadion tempat pengumuman. Allahuakbar!! Secepat kilat kami bersiap - siap dan naik ke bus dengan mata yang masih beler.
Selama perjalanan saya berdoa, minta diberikan yang terbaik.
Sampai juga. Huaaah, saya tidak bisa konsentrasi terhadap performance. Saya hanya menunggu pengumuman.
Tibalah saat yang dinanti. Layar akan menampilkan nama pemenangnya. Kak Lula menangis karena namanya tak ada... Kami semua turut bersedih, tetapi kami juga tak bisa membuang harapan dan doa kami.
Bersama Kak Septi, peserta pidato bahasa inggris.:3
Jumlah pemenangnya 6 orang. Saya ada di peringkat kelima.
Haaaa!! Kami langsung heboh. Setelah pengumuman selesai semua pemenang diminta naik ke atas panggung. Salah satu saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidup saya, menerima medali dan hadiah.
Dari sekolah kami, bidang KTI yang diikuti oleh Esa, Fajar, kak Sarah, dan Kak Dawam juga memenangkan peringkat pertama dan ketiga. Omedetou!!
Nah, temanku Aziz memenangkan juara pertama pidato bahasa Inggris. Congrats, bro!!
Nah, itu tadi pengalaman KSM saya yang singkat. Atau mungkin panjang, terserah. Alhamdulilah, kompetisi tersebut merupakan kenangan yang sangat indah dan berdampak besar pada semangat saya dalam belajar.
Saya yang awalnya ingin kuliah di bidang geografi yang saya dalami selama lomba, ternyata diterima di FSRD. Saya yang awalnya punya pilihan soshum ke UGM, malah mendapatkan ITB yang awalnya saya tidak suka. Saya yang berniat untuk menang lagi di tahun berikutnya ternyata harus gugur di tingkat provinsi.
Anda paham? Segala sesuatu bisa jadi berlawanan, tapi itulah yang terbaik untuk kita. 🙂 semoga cerita saya dapat menginspirasi adik-adik semua. Semangat, jangan lupa berdoa ya!!
*Saya sama sekali tidak berniat untuk pamer, foto hanyalah penunjang. :"v Jangan bully ya!*







Komentar
Posting Komentar