Menggambar, Belajar, SNMPTN
Assalamualaikum, teman-teman. Apa
kabar? Semoga sehat selalu! ^^
Kali ini, saya akan menceritakan
tentang hobi saya, yakni menggambar. Penasaran? Saya harap anda tidak mudah
bosan dengan tulisan panjang, HEHEHE.
Saya sudah mengenal kegiatan
menggambar sejak masih sangat kecil, sekitar usia 2 tahun-an. Sangat wajar bagi
anak seusia itu untuk mencoret-coret APA SAJA yang ada di sekelilingnya kan?
Nah, kalau anda pernah begitu, berarti kita sama, hehe (lagi). Rasanya tidak ada
satu hari pun saya lewatkan tanpa mencoret dinding rumah nenek saya. Entahlah,
rasanya setiap yang bisa menggambar pasti memulai dari benang kusut, naik level
ke stickman, menggambar anatomi, hingga menemukan style sendiri.
Saat TK saya mulai mempelajari gradasi
warna dan menggambar objek seperti bunga, rumah, dan stickman orang.
Ayah saya yang merupakan seorang guru seni mulai mengarahkan saya, terutama
dalam mewarnai menggunakan krayon. Bagi anak-anak seusia saya kala itu, masih
belum lazim menggunakan campuran warna dalam mewarnai. Padahal, itu merupakan
salah satu teknik dasar.
Ketika SD saya kepincut gambar
manga. Orang tua teman-teman saya yang lain melarang mereka untuk membaca
komik, tetapi hal tersebut tidak berlaku untuk saya. TIAP HARI sehabis pulang
sekolah saya baca NAKAYOSHI, Detective Conan, Doraemon, One Piece, dan
kawan-kawannya. Ayah dan ibu saya sedikit pun tak melarang, hanya memberikan
arahan untuk tidak melihat, apalagi meniru adegan-adegan yang tidak pantas, dan
saya menurutinya. Simple kan?
Kebiasaan membaca manga dan
menonton kartun sedikit demi sedikit menuntun saya untuk menggambar
karakter-karakter yang ada. Pokoknya, kalau manga, saya paling suka Doraemon
dan Jigoku Shoujo. Saking sukanya saya menggambar, saya pernah dimarahi guru gara-gara
menyobek kertas buku tulis untuk menggambar -__-.
Sampai saat ini, saya yang baru
lulus SMA masih melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Sebenarnya, saya telah
berusaha menggali potensi saya di bidang akademik dengan mengikuti olimpiade
IPS, geografi, cerdas cermat kepahlawanan, dan sebagainya. Selama mempelajari
itu semua, saya menganggap bahwa menggambar adalah ‘bagian dari hidup saya’
yang saya jadikan sampingan. Saya jadi tidak terlalu peduli dengan style,
warna, dan sebagainya. Menggambar ya menggambar kan?
Sayangnya, ada saja hal yang
tidak sesuai rencana. Saya gagal lolos ke tingkat nasional pada KSM geografi
terakhir saya. Saya sedih, tetapi berusaha untuk tidak terlalu larut. Ada saja
orang-orang yang mungkin sebenarnya bersimpati atas kekalahan saya, namun tanpa
sengaja menyakiti hati saya dengan kata-kata mereka. Mental saya jatuh…
Saya mulai bimbang. Pada waktu
saya merasa down, saya mulai tidak bersemangat belajar geografi. Saya cemas,
“bukankah apa yang sudah menjadi bagian dari kegiatan saya sehari-hari,
kegemaran saya, seharusnya tak membuat saya ingin berhenti dengan begitu mudah?
Bahkan seharusnya saat sedih pun saya tidak peduli dan bangkit untuk tetap
melakukannya?”
Saya tahu bahwa
pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan seperti saya yang terlalu terbawa
perasaan. Saat saya berkonsultasi dengan guru BK pun, bagi beliau itu merupakan
alasan yang tergesa-gesa karena saya masih kalut. Dalam keadaan bingung, saya
berpikir keras apakah saya akan melanjutkan kuliah ke jurusan geografi atau
tidak, saya mulai menggambar lagi.
Seorang kakak kelas yang diterima
di FSRD ITB melalui jalur SNMPTN menjadi tempat saya curhat selanjutnya. Ia pun
mengatakan hal yang hampir serupa, sembari mengingatkan untuk meyakinkan diri
bahwa jurusan pilihan adalah yang terbaik sesuai dengan kemampuan.
“Kenapa tidak masuk jurusan seni
saja?”
Selintas, keinginan tersebut ada.
Namun, kala itu ayah saya masih melarang saya untuk mengambil kuliah di jurusan
seni. Ayah saya khawatir saya akan menjadi anak egois serampangan yang
terobsesi dengan kesempurnaan. (Jiah!)
Setelah saya pikir-pikir lagi,
saya bisa menggambar dalam kondisi mental seperti apapun. Saat sedih, senang,
marah, saya tuangkan semua dalam gambar atau tulisan. Dalam hati saya menolak
mentah-mentah statement ayah saya. Bukankah itu justru tantangan untuk diri
kita sendiri? Mampukah kita tetap konsisten dengan tujuan awal untuk
menuntut ilmu? Hingga terpikirkan oleh
saya sebuah cara.
Saya mulai menggambar di
sela-sela kegiatan belajar saya setiap harinya. Setelah beres, saya tunjukkan
gambar tersebut kepada ayah dan ibu. Saya mencoba searching tentang berbagai
macam teknik menggambar di internet dan mencobanya untuk mengasah kemampuan.
Kenapa saya tidak les menggambar? Karena di Kota Serang tidak ada tempat kursus
menggambar portofolio dan villa merah tidak membuka bimbingan online, muehehe.
Nah, suatu saat ibu saya berkata
bahwa anak atasannya ada yang lulusan FSRD ITB dan ibu membebaskan saya untuk
kuliah di manapun. Senang dong, saya, wkwkwk. Saya tetap menggambar seperti
biasa. Hingga ayah saya mulai memberi kelonggaran. Akhirnya, beliau mengizinkan
saya masuk ke jurusan seni!
Sebuah cara yang sangat mujur :
menunjukkan usaha dan perkembangan.
Alhamdulilah saya bisa menetapkan
pilihan kampus dan jurusan tujuan. Karena saya terinspirasi dengan senior saya
dan saya tidak tahu lagi harus daftar ke mana, saya memilih FSRD ITB sebagai
the-one-and-only dalam SNMPTN. Normalnya kita bisa memilih maksimal dua, tetapi
saya benar-benar pasrah pada satu pilihan itu. Satu-satunya yang saya inginkan.
Saya pun melampirkan empat
portofolio : dua gambar wajib suasana hitam putih + proporsi 4 benda berwarna,
sisanya karya tambahan “terbaik”. Btw, bisa juga berupa karya 3D atau desain
produk. Saya sih cuma mengirimkan gambar karena saya tidak punya satu pun di
antara keduanya. :”)
Gambar Wajib 1, "Orang sedang menonton pertandingan di TV".
Gambar Wajib 2, "Proporsi 4 Benda :
1 jenis buah-buahan, 1 alat masak, 1 alat makan, 1 alat tulis".
Karya Tambahan, "Rumah bergaya Jepang terinspirasi anime".
Karya Tambahan, "Wanita".
Setelah mengirim semua berkas,
saya hanya dapat pasrah dan berdoa, semoga bisa diterima. Selama itu saya juga
mempersiapkan diri untuk ujian, UTBK, dan SBMPTN. Kalau-kalau saya tidak
diterima di jalur SNMPTN.
Setiap sujud terakhir, saya
selalu berdoa dalam hati : “Ya Allah, semoga hamba bisa diterima di FSRD, FSRD.
FSRD ITB!!”
***
Hari pengumuman pun tiba!
*drumroll*
Beberapa kali situsnya error.
Saya sih awalnya mau mengerjai teman saya dengan mengetikkan nisn nya di komputer
ruang bk, tapi ketahuan. Yah, auto dipukul -__-. Akhirnya, saya sambil menahan
napas mengetik dan menekan tombol… dan ternyata…
Yah…
Saya….
Pingsan. WKWKWKWK. (Kata temen
sama guru saya)
“Hijau…” Saya melongo. “Oh,
keterima, ya?”
Guru BK : “IYA! SELAMAT YA,
NAK!!”
Saya : “Ah, saya mau pulang. Mau
kasih nama celana dalam baru saya pakai spidol.”
Temen : “Elu ngomong apa sih?
Diterima, anjir!”
Saya :…. “WOOOOOOOOOOO!!!!!! IBU,
AYAH, ANAKMU DITERIMA!!”
Fokus sama pengumuman, bukan iklannya -_-.
Saya memotret tanda kelulusan tersebut
dengan HP. Ya Allah, saat itu rasanya masih seperti melata melayang.
Alhamdulillah, rezeki saya!
Orang tua saya membalas kiriman
fotonya dari WA dengan sangat bahagia.
Anu, saya tidak tahu mau mengetik
apa lagi tentang perasaan saya berikutnya. Akan tetapi, saya amat sangat
bersyukur. Sebuah awal bagi saya untuk menuntut ilmu dan merantau. Memang,
awalnya saya merasakan euforia. Akan tetapi, hari-hari setelahnya, saya kembali
ke rutinitas saya semula. Saya belajar keras untuk UN setiap harinya, bahkan
menambah jam belajar dan pengerjaan soal untuk matematika yang menjadi
kelemahan saya. Saya bisa benar-benar fokus, rasanya seperti terlepas dari
tindihan batu raksasa, Alhamdulillah.
“Kalau saya jadi Ananda saya ga
akan belajar lagi, toh sudah diterima.”
Saya tidak akan mau menganggap
remeh. Belajar adalah kewajiban saya, menggambar adalah hobi saya yang tak
tergantikan, dan keduanya merupakan bagian penting dalam pendidikan saya.
Alhamdulillah, lagi, tiga dari
empat pelajaran saya di atas 90. Kalau matematika…sudah, jangan tanya ya!
Setelah memastikan tidak ada
nilai-nilai lainnya yang kurang, saya
mulai bersantai dan beristirahat. Menggambar hampir setiap hari karena
banyaknya waktu senggang. Saya amat bahagia. ^^-
Oh ya, karena saya belum terlalu
ahli menggambar dengan cat air, saya memastikan sampai waktunya masuk, saya
akan terus mempelajarinya. Untuk gambar digital, setelah belajar cat air. Wah,
saya punya banyak rencana untuk sebulan ke depan.
Teman-teman, sekian cerita
tentang gambar, belajar, dan jalur penerimaan mahasiswa saya. Mohon maaf bila
ada kata-kata yang kurang berkenan. Tetap semangat, buka awal yang baru, dan
bersungguh-sungguhlah! Semoga kita senantiasa bersyukur dan memiliki niat yang lurus, amiin!





Komentar
Posting Komentar