Pengalaman Mengikuti OSP Geografi 2017
Hi
all! Ketemu lagi di postingan mengenai OSN. Sekarang, gua bakal share
pengalaman gua mengikuti OSP Geografi 2017 untuk Provinsi Banten. Penasaran ga?
Penasaran gaaaa? Udah, baca dulu aja!
Setelah
salah satu hari paling membahagiakan sedunia (hari saat gua dikasih tau kalau
gua lolos) gua mulai belajar ekstra
keras. Lebih-lebih dari OSK. Gua mulai pakai waktu istirahat gua buat ke
perpustakaan dan belajar lebih sering dari biasanya. Gua mulai sering banget
bawa-bawa laptop yang isinya materi geografi. Buku OSN Geografi yang lumayan
tebel (sekitar 300 halaman) dan terdiri dari dua jilid sukses bikin tas gua
beratnya minta ampun belum lagi gua bawa buku pelajaran. Udah, pertama kalinya
dalam hidup gua mengalami sakit punggung lebih dari seminggu akibat gendong tas
berat dan duduk belajar terlalu lama. Ditambah… laptop gua yang gede dan berat
banget.
Itu
semua bisa dibaca sehari?
Nggak
semua, guys. Cuma kalau lagi bahas soal materinya kan banyak dan mencar-mencar,
seringkali Mbah Google pun ga begitu membantu. Kudu sabar, namanya geografi ga
bakal dikuasai kalau lo males baca materi dalam bentuk apa pun. Makanya, sebisa
mungkin harus mencari cara belajar yang efektif dan efisien. Atau, kalau emang
suka baca, lo bisa baca buku materinya sebagai pengganti novel-novel romantis
itu. Meskipun konsekuensinya lo bakal ngantuk di awal-awal.
Untungnya
sifat gua yang rada ansos ini ga berlangsung lama, apalagi jadi beban. Gua
mulai bicara sama teman-teman mapel lain yang lolos. Suka ada yang ngelawak
atau ngomongin topik yang asik, lumayan mengurangi kejenuhan.
Untuk
OSP kali ini, tidak diselenggarakan pelatihan. Padahal materinya tentu lebih
berat. Gua berusaha pede sama kemampuan gua. Yang nyesek, kalau lo tipe orang
macam gua yang rada kuper soal informasi penjualan soal-soal latihan OSN di
internet. Gua telat dapet infonya, padahal itu lagi murah banget. Gua ga sempet
transfer deh,
dan lagi-lagi, harus pede dan banyakin doa.
Ok,
hari keberangkatan pun tiba. Senin, 8 Mei 2017. Gua dan kawan-kawan meminta doa
restu orang tua dan dewan guru. Kami pun berangkat menuju ke Hotel Marbella,
Anyer. Udah lama gua ga kesana, dan untuk kali ini gua bersyukur banget karena
100% gratis karena dibayarin pemerintah, bukan ditombokin orang tua.
Setelah
check in, kami ke pantai sebentar dan lihat-lihat pemandangan. Hati ini rileks
seketika (ciatt). Setelah itu langsung ke kamar, istirahat dan siap-siap untuk
pembukaan di ballroom setelah makan malam.
Saat
pembukaan, dibahas mengenai peraturan lomba dan masing-masing mata pelajaran.
Apabila lolos ke tingkat nasional, maka akan dikirimkan ke Provinsi Riau.
Selanjutnya, bila memenangkan OSN dan masuk pelatnas, peserta berhak maju ke
IGeo 2017 di Quebec, Kanada. (Yang tempat syutingnya drakor Goblin itu, lhoo!!
^^;;;;)
Nah,
saat pembukaan itu juga disediakan snack and coffee corner. Jadi ga ada alasan
buat ngantuk, ya.
Esok
adalah hari kompetisi, bagaimana nasib gua? Nasib gua ya gitu.
Gua panik setengah mati, berasa demam panggung. Ini bukan kali pertama gua lolos ke OSP, waktu SMP pun gua pernah. Tapi rasanya bener-bener beda, karena lo mulai sadar kalau orang-orang yang sarapan, makan malam, makan siang, dan jadi 'temen baru' lo adalah saingan lo juga. Ada juga yang baik dan kasih gua permen. Sayangnya, rasa gelisah gua seolah mengalahkan itu semua.
Soal dibagikan, terdiri dari 50 soal PG dan 5 esai disertai uraian singkat. Dalam pengisian PG dan uraian singkat, gua cukup pede, tetapi tidak dengan soal tentang jurnal dan analisa. Pembangunan waduk jatigede yang ga kelar-kelar itu, laju sedimentasinya, gua pusing. Setelah gua konfirmasi beberapa bulan setelahnya ke kakak kelas gua yang kuliah geografi di UGM, dia bilang materi itu setara dengan materi semester 5 kuliahnya.
Dalam hati : "Pantes aja waktu itu gua ga bisa jawab. Gua belum mampu dan pantas untuk mencapai tahap nasional kalau satu jurnal pun belum habis gua baca."
Okelah, setelah selesai gua merasa cukup lega. Ada sedikit harapan dalam hati, tetapi dengan segera gua berusaha mengikhlaskan. Kalaupun gua kalah, gua yakin kompetisi semacam ini cuma pantas diisi oleh orang-orang yang berusaha maksimal, sementara gua belum apa-apa. Gua baru lepas dari 'dendam' gua pada geografi saat olimpiade IPS SMP, gua baru belajar.
Dan benar saja, apa yang gua pikirkan jadi kenyataan. Gua ga lolos Gua sempat merasa sedih, sakit banget rasanya. Namun, gua ga mau kekecewaan itu menghantui gua. Gua berusaha bangkit, ada satu lagi kompetisi yang tersisa untuk gua perjuangkan : KSM Geografi. Detik-detik setelah gua mendengar berita kekalahan tersebut adalah saat yang sama dengan gua bertekad buat berusaha lebih keras lagi. Gua harus yakin, gua pasti bisa!
Nah, sekarang ini, 18 Maret 2018, gua melanjutkan kembali mengetik draft tahun lalu ini, hehehe. Gua dalam persiapan OSP juga, dengan KSM tentunya. Semoga gua bisa memberikan kabar bernada lain di kesempatan terakhir gua ini, hehe. Cerita tentang KSM bakal gua share, ga tau kapan. Gua harap sih secepatnya :)
Makasih udah menyempatkan baca sharing pengalaman gua yang serba gaje.
With Love, Ananda Yasmin.
Gua panik setengah mati, berasa demam panggung. Ini bukan kali pertama gua lolos ke OSP, waktu SMP pun gua pernah. Tapi rasanya bener-bener beda, karena lo mulai sadar kalau orang-orang yang sarapan, makan malam, makan siang, dan jadi 'temen baru' lo adalah saingan lo juga. Ada juga yang baik dan kasih gua permen. Sayangnya, rasa gelisah gua seolah mengalahkan itu semua.
Soal dibagikan, terdiri dari 50 soal PG dan 5 esai disertai uraian singkat. Dalam pengisian PG dan uraian singkat, gua cukup pede, tetapi tidak dengan soal tentang jurnal dan analisa. Pembangunan waduk jatigede yang ga kelar-kelar itu, laju sedimentasinya, gua pusing. Setelah gua konfirmasi beberapa bulan setelahnya ke kakak kelas gua yang kuliah geografi di UGM, dia bilang materi itu setara dengan materi semester 5 kuliahnya.
Dalam hati : "Pantes aja waktu itu gua ga bisa jawab. Gua belum mampu dan pantas untuk mencapai tahap nasional kalau satu jurnal pun belum habis gua baca."
Okelah, setelah selesai gua merasa cukup lega. Ada sedikit harapan dalam hati, tetapi dengan segera gua berusaha mengikhlaskan. Kalaupun gua kalah, gua yakin kompetisi semacam ini cuma pantas diisi oleh orang-orang yang berusaha maksimal, sementara gua belum apa-apa. Gua baru lepas dari 'dendam' gua pada geografi saat olimpiade IPS SMP, gua baru belajar.
Dan benar saja, apa yang gua pikirkan jadi kenyataan. Gua ga lolos Gua sempat merasa sedih, sakit banget rasanya. Namun, gua ga mau kekecewaan itu menghantui gua. Gua berusaha bangkit, ada satu lagi kompetisi yang tersisa untuk gua perjuangkan : KSM Geografi. Detik-detik setelah gua mendengar berita kekalahan tersebut adalah saat yang sama dengan gua bertekad buat berusaha lebih keras lagi. Gua harus yakin, gua pasti bisa!
Nah, sekarang ini, 18 Maret 2018, gua melanjutkan kembali mengetik draft tahun lalu ini, hehehe. Gua dalam persiapan OSP juga, dengan KSM tentunya. Semoga gua bisa memberikan kabar bernada lain di kesempatan terakhir gua ini, hehe. Cerita tentang KSM bakal gua share, ga tau kapan. Gua harap sih secepatnya :)
Makasih udah menyempatkan baca sharing pengalaman gua yang serba gaje.
With Love, Ananda Yasmin.
Komentar
Posting Komentar